Selepas turun dari Gunung Kelud saya menuju Blitar melalui jalan pintas jalur kampung anggrek, di pinggir jalan desa Sempu saya melihat sebuah bangunan yang unik. Tertarik untuk melihat lebih dekat maka saya belokkan ke arah bangunan tersebut yang kira-kira berjarak 30m dari jalan.
Adalah sebuah lahan yang cukup luas dibangun dengan konsep perkampungan suku Indian, di pintu gerbang tertulis Welcome to Indian Village. Mendatang saya yakin lokasi ini akan menarik wisatawan keluarga.
Belum ada papan penunjuk arah namun apabila ingin mengunjungi Kampung Indian itu kita bisa mengikuti arah jalan ke Kampung Anggrek. Lokasi tepatnya adalah desa Sempu kecamatan Ngancar masuk wilayah Kediri perbatasan dengan Blitar.
Akhir pekan lalu saat turun dari B29, di pertigaan Senduro saya melihat papan penunjuk arah ke Ranupane. Meskipun tujuan saya pulang ke Surabaya namun rasa penasaran membuat saya ingin mencoba melewati jalur tersebut.
Saya bertanya pada penduduk sekitar untuk mendapatkan sedikit informasi tentang jalur yang akan saya lalui..
Dari Senduro melewati desa Burno, sebuah desa yang asri dengan udara sejuk dan rumah-rumah warga nampak tertata rapi dan bersih. Selepas desa Burno pemandangan didominasi oleh rimbunnya pepohonan hutan lindung. Meskipun tidak terlalu lebar namun dengan kondisi aspal jalan yang mulus membuat saya benar-benar menikmati jalur ini..
Suasana jalur ini sempat saya abadikan melalui video yang mungkin akan bermanfaat sebagai gambaran bagi yang ingin melalui jalur tersebut..
Selain Candi Borobudur yang mendunia itu, Magelang juga memiliki banyak spot wisata. Salah satunya adalah Punthuk Setumbu, sebuah bukit yang menjadi favorit wisatawan asing dan para penghobi fotografi mengabadikan pemandangan pagi dari ketinggian dengan obyek Candi Borobudur yang berselimut kabut..
Tanpa mengacu pada konsep aliran modifikasi, ubahan motor yang dua tahun belakangan ini selalu menemani saya di kala touring memang sengaja disesuaikan dengan riding position yang menurut saya nyaman untuk perjalanan jarak jauh.
Kawasaki Z250 yang dilahirkan sebagai motor street fighter masih terlalu "galak" untuk tubuh saya yang sebelumnya terbiasa menggunakan motor cruiser Kawasaki Eliminator dan Suzuki Intruder. Oleh karenanya saya lakukan sedikit modifikasi di beberapa bagian..
• Stang After market dengan ukuran yang lebih tinggi
• Jok belakang Custom
• Fairing Custom untuk memudahkan kontrol tabung air radiator
• Velg rim 17 dengan lebar 3" (depan) dan 4,5" (belakang)
• Ban ukuran 120/80 x 17 untuk bagian depan sedangkan belakang menggunakan ukuran 150/70 x 17
• Exhaust mengaplikasi silencer bobokan kepunyaan byson
Terbilang modifikasi ringan karena rangka maupun mesin serta sebagian besar parts masih bawaan pabrik. Ubahan yang dilakukan dan aksesori yg disematkan pada Suzuki gsx250 keluaran 2001 inipun tidak banyak menguras kantong.
• Subframe dibagian buritan dipotong sekitar 15cm tanpa merubah lekukan rangka
• Jok custom menyesuaikan rangka yang lebih pendek
• Sektor kaki menggunakan velg Champ 3" dipadu dengan ban ukuran 100/90 x 17 untuk bagian depan. Sedangkan belakang menggunakan ban ukuran 130/70 x 17 membalut velg Champ 3,5"
• Sokbreker Ride It
• Spakbor custom
• Knalpot custom
• Handlebar mencomot kepunyaan Kawasaki Z250SL
Dengan ubahan yang sederhana tersebut rasanya cukup nyaman buat dipakai harian..
Tidak ada kamus cuaca panas/dingin bagi pengendara motor, yang ada adalah semilir angin.. Panas, gerah, sumuk hanya berlaku buat pemobil yang AC nya mati. Sengatan terik matahari dan dinginnya guyuran hujan itulah bumbu utama di jalanan, mulusnya aspal adalah bonusnya..
Naah.. Di Jalur Lintas Sumbawa inilah kita para pemotor akan berpesta bonus. Jalan lengang yang mulus dengan kualitas aspal nomer wahid seolah menjadi surga bagi penyuka kecepatan dan taman firdaus bagi penikmat pemandangan..
Lalu lalang kerbau serta kuda di tengah jalan menjadi pelengkap indahnya suasana alam Sumbawa..
Hewan-hewan ternak inilah yang perlu diwaspadai karena mereka bisa sesuka hati melenggang di tengah jalan tanpa menghiraukan safety walking..
Para joki usai berlatih di arena pacuan kuda desa Lepadi Dompu
Di era tahun 90an grup band SAS merilis lagu yang berjudul Larantuka, selain menyukai lagunya saya juga seperti terhipnotis oleh susunan huruf L.a.r.a.n.t.u.k.a.
Kala itu dalam benak saya tergambar sebuah tempat yang terpencil dan penuh misteri sehingga menjadikan obsesi yang kuat untuk bisa menginjakkan kaki di kota itu entah kapan dan seperti apa caranya..
Beruntung pada usia saya yang ke 50 ini impian tersebut bisa terwujud.
Bersama "sang sahabat" sebuah motor Kawasaki Z250 keluaran tahun 2013, selama 12 hari saya menyusuri jalanan dari Surabaya hingga Larantuka dan kembali ke Surabaya..
Selain kesiapan fisik, mental, dana, serta kesehatan motor, bekal utama tentu saja saya menggali info sebanyak mungkin dari pengalaman para biker yang pernah berkunjung kesana..
Alhamdulillah sejak keberangkatan 21/04/17 sampai kembali ke rumah 03/05/17 perjalanan lancar tanpa mengalami kendala yang berarti..
Setiap hari perjalanan saya lakukan pagi hingga petang. Sengaja tidak melakukan perjalanan malam hari karena ingin menikmati pemandangan di setiap jengkal jalur yang saya lalui, selain itu saya juga memerlukan waktu istirahat yang cukup agar tubuh kembali bugar untuk melakukan perjalanan lagi esoknya.
Jadwal dan rute serta lokasi yang saya kunjungi adalah :
Hari 1 :
Surabaya - Ketapang - Gilimanuk - Padangbai - Lembar (Lombok) - Mataram
(bermalam di Fery Padangbai-Lembar)
Hari 2 :
Mataram - Kayangan - Pototano (Sumbawa) - Sumbawa Besar
Menginap di Hotel Mekarsari Sumbawa Besar
Lokasi Kunjungan :
- Istana Dalam Loka
- Bala Kuning
Hari 3 :
Sumbawa Besar - Dompu - Bima - Sape - Labuan Bajo (Flores)
Menginap di Hotel Mutiara Labuan Bajo
Lokasi Kunjungan :
- Arena Pacuan Kuda ds.Lepadi Dompu
- Arena Pacuan Kuda Panda Balibelo Bima
Hari 4 :
Labuan Bajo - Ruteng - Aimere - Bajawa
Menginap di Marcelino Homestay Bajawa
Lokasi Kunjungan :
- Kampung Adat Todo, ds.Satarmese Ruteng
- Persawahan Sarang Labalaba, ds.Cancar Ruteng
- Kampung Adat Pu'u, kec.Golodukal Ruteng
Hari 5 :
Bajawa - Ende - Moni
Menginap di Silvester Homestay Moni
Lokasi Kunjungan :
- Desa Adat Bena Bajawa
- Rumah Pengasingan Bung Karno Ende
- Kampung Adat Saga
Hari 6 :
Moni - Maumere - Larantuka
Menginap di Hotel Tresna Larantuka
Lokasi Kunjungan :
- Danau Kelimutu
- Gereja Tua Sikka Maumere
- Mater Dolorosa Larantuka
Hari 7 :
Larantuka - Maumere - Moni - Ende
Menginap di Hotel Anggrek Ende
Hari 8 :
Ende - Bajawa - Aimere - Ruteng
Menginap di Hotel Ranaka Ruteng
Hari 9 :
Ruteng - Labuan Bajo
Tidak dapat meneruskan perjalanan karena harus menunggu Fery keesokan hari.
Menginap di Hotel Mutiara Labuan Bajo
Hari 10 :
Labuan Bajo - Sape - Bima - Sumbawa Besar
Menginap di Hotel Mekarsari Sumbawa Besar
Hari 11 :
Sumbawa Besar - Pototano -Kayangan - Mataram
Menginap di rumah seorang kawan di Mataram
Bujet penginapan yang saya sebut diatas berkisar 100-200rb/mlm. Total keseluruhan biaya selama 12 hari perjalanan sekitar 5,2jt
Tentang Pelabuhan :
• Ketapang (Jawa) - Gilimanuk (Bali) dan sebaliknya tersedia setiap saat selama 24 jam. Biaya untuk motor <500cc sebesar 22rb. Waktu penyeberangan sekitar 40 menit
• Padangbai (Bali) - Lembar (Lombok) dan sebaliknya, keberangkatan setiap 1 jam selama 24 jam. Biaya untuk motor <500 cc sebesar 122rb. Waktu penyeberangan sekitar 5 jam
• Kayangan (Lombok) - Pototano (Sumbawa) dan sebaliknya, keberangkatan setiap 1 jam selama 24 jam. Biaya untuk motor <500cc sebesar 48rb. Waktu penyeberangan sekitar 2 jam
• Sape (Sumbawa) - Labuan Bajo (Flores) Jadwal keberangkatan setiap hari jam 4 sore. Biaya untuk motor <500cc sebesar 160rb. Waktu penyeberangan sekitar 7-8 jam
• Labuan Bajo (Flores) - Sape (Sumbawa) Jadwal keberangkatan setiap hari jam 8 pagi