Thursday, April 3, 2014

Telaga di Dataran Tinggi DIENG

Dataran Tinggi Dieng adalah tujuan saya selanjutnya, setelah mandi serta sarapan pasca turun dari Posong saya mengarahkan motor menuju Dieng. Memasuki dataran yang mulai menanjak kita akan disuguhi pemandangan serta panorama alam yang sangat mempesona..





Memasuki kawasan Dieng tujuan pertama saya adalah Telaga Cebong yang terletak di desa Sembungan yang merupakan desa tertinggi di pulau Jawa. Selanjutnya saya berkeinginan menikmati ketenangan telaga-telaga lainnya yang berada di kawasan Dieng ini antara lain Telaga Warna, Telaga Pengilon, Telaga Merdada serta Telaga Menjer

TELAGA CEBONG







TELAGA WARNA







TELAGA PENGILON





TELAGA MERDADA







TELAGA MENJER





Lembah POSONG Lereng Gunung Sindoro Temanggung

Bangun jam 5 pagi dari Griya Teh homestay secepatnya menuju desa Tlahab lokasi Kampung Posong berada dengan maksud agar tidak ketinggalan sunrise. Letak Posong sendiri hanya berjarak 3 km dari dari jalan raya parakan.
Sesampai di titik lokasi ternyata sudah ada beberapa wisatawan yang berada disana rupanya mereka juga tidak ingin ketinggalan melihat sunrise dari dataran tinggi Posong.

Kampung Posong berada pada posisi yang sangat strategis diapit dua gunung yakni Sindoro dan Sumbing dengan pemandangan puncak gunung Merbabu, Merapi, Telemoyo, Andong, Ungaran dan gunung Muria. Jadi tidaklah heran bila pemandangan di dataran tinggi Posong ini sangat menakjubkan. Sayangnya pada saat itu cuaca sedikit mendung sehingga munculnya matahari tidak sempurna didapat.












Kampung Posong adalah bukti nyata kerjasama serta sinergitas antara masyarakat lokal dengan Pemerintah Daerah setempat. Keharmonisan ini selayaknya bisa menjadi contoh untuk desa-desa lain...

GRIYA TEH Homestay Jl.Wonosobo-Parakan km.15

Masih terbayang di ingatan saya betapa sangat disayangkan keberadaan Benteng Willem I Ambarawa yang sepertinya kurang terpelihara dengan baik, namun positif sajalah pasti pemerintah setempat memiliki program tersendiri untuk kelestarian bangunan peninggalan sejarah.
Lanjuuut..

Selepas kota Ambarawa hujan mulai turun.. gerimis perlahan merangkak menjadi cukup deras namun saya tidak surut untuk tetap melajukan motor.. nyantai saja tidak tergesa-gesa. Tujuan saya adalah ke Kampung Posong yang letaknya di lereng Gunung Sindoro tepatnya di desa Tlahab kecamatan Kledung kabupaten Temanggung.

Memasuki Temanggung sudah menjelang petang, tidak ada gunanya memaksakan diri untuk tetap naik ke lereng Sindoro karena dalam gelap tidak akan dapat melihat pemandangan Posong yang konon sangat indah itu. Saya memutuskan untuk mencari penginapan yang tidak jauh dari lokasi Posong.
Akhirnya dapat juga penginapan yang sesuai dengan bujet saya yaitu di homestay Griya Teh dengan biaya 100rb rupiah per malam.

Griya Teh menyediakan 3 kamar sederhana yang dilengkapi kamar mandi dalam dengan kebersihan yang cukup terjaga. Fasilitas yang disediakan didalam kamar juga sederhana, meskipun tanpa AC maupun kipas angin kita tidak akan kegerahan karena hawa di tempat yang masuk wilayah Wonosobo ini sangat sejuk.
Terdapat pula sebuah cafe yang sederhana dengan menyajikan menu yang sederhana pula. Saya merasa nyaman berada di tempat ini..


makan malam di dalam kamar dengan menu mie rebus dan 2 gelas kopi

suasana cafe Griya Teh homestay

kamar menghadap ke persawahan membelakangi jalan raya
Sebagai informasi,
Griya Teh homestay
Jl.Wonosobo-Parakan km.15 (kec.Kledung)
Cp. 085729898918

Wednesday, April 2, 2014

Benteng Willem I Ambarawa

Setelah dari Ngawi mengunjungi benteng Van den Bosch saya melanjutkan perjalanan menuju kota Ambarawa ingin melihat dan meyentuh langsung benteng Willem I.
Jalur yang saya lewati adalah Ngawi-Sragen kemudian lewat jalan alternatif Gemolong yang tembus ke Salatiga lalu sampailah di Ambarawa.

Mencari lokasi benteng Willem I tidaklah sulit karena saat melintas di JLA (Jalan Lintas Ambarawa) benteng Willem I sudah dapat terlihat. Bertanya pada warga sekitar adalah senjata utama untuk mengetahui letak pintu masuk benteng yang ternyata di sebelah RSUD.

Tidak ada biaya retribusi resmi untuk dapat masuk ke benteng ini, namun ada semacam kotak sumbangan kebersihan yang bersifat sukarela.

Beberapa moment gambar yang sempat saya abadikan..

bagian luar benteng

bagian dalam
terdapat jembatan yang menghubungkan ke dua sisi gedung


tangga menuju lantai dua
jembatan penghubung
sisi gedung sebelah kanan dihuni oleh beberapa warga
lorong lantai dua yang berpenghuni
salah satu sudut benteng nampak tidak terawat

Mengintip Kampoeng Rawa
Sebelum lanjut ke Temanggung saya sempatkan mengintip tempat wisata Kampoeng Rawa yang terletak di pinggir Jalan Lintas Ambarawa. Obyek wisata ini sangat cocok untuk keluarga karena dilengkapi dengan resto apung, wahana permainan anak, wisata perahu mengelilingi Rawapening dll.
gapura masuk Kampoeng Rawa
wisata perahu 80rb untuk berkeliling danau Rawapening

dermaga perahu

Benteng Van den Bosch Ngawi

Weeitz.. ada tanggalan merah 28 smpai 31 Maret.., sangat disayangkan jika waktu terbuang begitu saja.., touring..? pasteeh..!! Sudah saya rencanakan sebelumnya untuk mengunjungi beberapa lokasi di area Jawa Tengah. Namun karena satu arah perjalanan target pertama yang saya kunjungi adalah Benteng Van den Bosch yang berada di kota Ngawi.

Berangkat dari Surabaya jam 7 pagi (setelah berpeluk cium dengan anak istri) saya memulai perjalanan dengan motor kawasaki eliminator melalui jalur Surabaya - Bojonegoro - Cepu - Ngawi. Sudah sukup lama saya tidak melewati jalur ini, ternyata perkembangan pembagunan jalan sebagai sarana transportasi cukup bagus, hanya di beberapa titik saja aspal masih ada yang bergelombang dan berlobang, namun secara umum jarak sepanjang 182 km saya melaluinya dengan cukup nyaman dan lancar selama kurang lebih 4 jam.

Sesampai di alun-alun Ngawi saya bertanya pada seseorang letak Benteng Van den Bosch (warga sekitar menyebutnya benteng pendem). Tidak sulit mencari lokasi benteng ini, dari alun-alun lurus ke arah pasar raya Ngawi kemudian belok kanan luruuus.. nampaklah pintu gerbang masuk Benteng Van den Bosch.

Hanya membayar biaya parkir 2000 rupiah saja, namun seperti biasa saya memberi sedikit lebih kepada penjaga agar bisa diijinkan untuk membawa motor masuk ke dalam benteng. Puas sekali bisa melongok ke semua sudut benteng Van den Bosch ini.











Setelah dari benteng Vand den Bosch di Ngawi ini saya melanjutkan perjalanan dengan tujuan selanjutnya adalah kota Ambarawa..